A. QS. Al- Baqarah ayat 254
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ ۗ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Terjemahnya:
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.”
Arti Mufradat QS. Al- Baqarah: 254
أَنْفِقُوا
infaqlah
مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ
sebagian dari rezki yang telah kami berikan kepadamu
مِنْ قَبْلِ
sebelum datang
أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ
datang hari
لَا بَيْعٌ فِيهِ
tidak ada lagi jual beli
وَلَا خُلَّةٌ
tidak ada lagi persahabatan
وَلَا شَفَاعَةٌ
dan tidak ada lagi syafaat
هُمُ الظَّالِمُونَ
itulah orang yang zalim
PENJELASAN
Surah Al-Baqarah adalah surah ke 2 dalam al-Qur‘an. Surah Al-Baqarah termasuk surat madaniyah karena diturunkan di kota Madinah. Surah madaniyah isinya cenderung seruan agar orang-orang beriman melaksanakan kewajiban beribadah, beramal saleh dan berjuang di jalan Allah Swt.
Tinjauan Ayat
Secara umum penduduk Madinah mudah diajak dialog dan terbuka terhadap perubahan. Mereka memiliki akhlak baik, tidak berjudi, tidak mabuk-mabukkan dan mayoritas beriman kepada Allah Swt.
Secara umum pada zaman Rasulullah Saw. profesi orang-orang Madinah adalah sebagai petani. Oleh karena itu karakter orang Madinah terkenal ramah, tolong menolong, berakhlak mulia dan sangat terbuka, serta sangat menjungjung tinggi kebersamaan. Orang Madinah jauh dari nuansa kekerasan, Sehingga dalam QS. Al-Hasyr (59): 9 Allah Swt. berfirman:
Terjemahnya:
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.
Kandungan QS. Al-Baqarah: 254
Dengan demikian QS. Al-Baqarah (2): 254 sangat sesuai dengan karakter orangorang Madinah untuk mendapat seruan Allah Swt. agar mereka menunjukkan kualitas keimanannya dengan menginfakkan sebagian rezekinya.
Dalam QS. al- Baqarah (2): 254 Allah Swt. menyeru orang-orang yang beriman agar menafkahkan hartanya, baik sedekah yang wajib (zakat) maupun sedekah yang sunah. Dan hendaknya bersegera untuk menafkahkan sebagian rezeki yang Allah Swt. karuniakan sebelum datangnya hari kiamat. Karena setelah kiamat tiba maka seseorang tidak dapat menebus dirinya dengan harta apapun.
Penjelasan lain disebutkan, hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, belanjakanlah sebagian harta yang telah Allah berikan kepada kalian di jalan kebaikan. Bergegaslah melakukan itu sebelum datang hari kiamat. Yaitu suatu hari yang sepenuhnya hanya untuk kebaikan dan tidak ada penyebab perselisihan. Pada hari itu kalian tidak bisa mengembalikan apa-apa yang telah lalu di dunia. Hari itu juga tidak ada jual beli, persahabatan dan syafaat seseorang selain Allah. Sesungguhnya kezaliman orang-orang kafir akan tampak pada hari itu oleh sebab tidak memenuhi panggilan kebenaran.
Pada saat itu tidak ada pertolongan dari sahabat dan kerabat, bahkan keturunan pun tak ada yang peduli lagi. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. al-Mukminun (23 ): 101 :
Terjemahnya:
Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya
B. QS. al- Baqarah (2): 261
Terjemahnya:
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Arti Mufradat QS. Al- Baqarah: 261
مَثَلُ الَّذِينَ
perumpamaan orang-orang
كَمَثَلِ حَبَّةٍ
seperti sebutir biji
أَنْبَتَتْ
yang menumbuhkan
سَبْعَ سَنَابِلَ
tujuh tangkai
فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ
pada setiap tangkai
مِائَةُ حَبَّةٍ
ada seratus biji
يُضَاعِفُ
melipat gandakan
لِمَنْ يَشَاءُ
bagi siapa yang dia kehendaki
وَاسِعٌ
Maha luas
عَلِيمٌ
Maha mengetahu
Kandungan QS. Al- Baqarah : 261
Dalam QS. Al- Baqarah (2): 261 Allah Swt. menjelaskan bahwa menginfakkan harta dengan ikhlas dalam ketaatan kepada-Nya akan dilipatgandakan pahalanya sampai tujuh ratus kali lipat. Walaupun asbabun nuzul ayat ini berhubungan dengan kedermawanan sahabat Nabi Muhammad Saw., yaitu Ustman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Keduanya menyumbangkan harta mereka ketika perang tabuk. Namun secara umum ayat ini mendorong agar manusia gemar infak dan sedekah tanpa dibatasi oleh kondisi dan keadaan.
Penjelasan lain: Orang yang mengeluarkan hartanya untuk ketaatan dan kebaikan akan memperoleh pahala berlipat ganda dari Allah. Perumpamaan keadaanya seperti orang yang menabur sebutir benih unggul di tanah. Dari benih tersebut tumbuh pohon kecil yang terdiri atas tujuh bulir. Pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Inilah gambaran betapa banyaknya pahala berinfak yang diberikan Allah di dunia. Allah melipatgandakan pemberian-Nya untuk orang yang dikehendaki-Nya. Dia Mahaluas karunia, Maha Mengetahui orang yang berhak dan yang tidak berhak.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia menceritakan, Rasulullah Saw. bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، يَقُولُ اللَّهُ: إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، ولخُلُوف فِيه أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ. الصَّوْمُ جُنَّةٌ، الصَّوْمُ جُنَّةٌ
Artinya:
“Setiap amal perbuatan anak Adam, satu kebaikan dilipat-gandakan sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat atau bahkan lebih sesuai kehendak Allah. Allah berfirman: „Kecuali puasa, karena ia untuk-Ku dan Aku akan memberikan pahala atasnya. Ia meninggalkan makanan dan minuman karena-Ku.‟ Dan orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan, kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya. Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Puasa itu perisai, puasa itu perisai.” (HR. Muslim).
C. Keterkaitan Kandungan QS. Al-Fajr (89): 15-18 dan QS. Al-Baqarah (2): 254 dan 261 dengan Fenomena Sosial tentang Infak dan Sedekah
QS. Al-Fajr (89): 15-18 dan QS. Al-Baqarah (2): 254 dan 261, ketiganya memiliki keterkaitan, diantaranya:
1. Anjuran untuk mencari rezki yang halal.
2. Anjuran untuk berinfak dan bersedekah dari rezki yang diperoleh di jalan Allah Swt.
3. Kepedulian sosial baik terhadap orang fakir miskin, anak yatim atau orang-orang yang membutuhkan uluran tangan.
4. Balasan pahala dan kebaikan bagi orang yang mensyukiri nikmat (rezeki) dan ancaman bagi orang ingkar terhadap nikmat berupa rezeki dari Allah Swt
Terdapat beberapa keutamaan dari berinfaq dan bersedekah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menghapus dosa-dosa
2. Mendapat syafaat di hari akhir
3. Memberi keberkahan harta
4. Pahala berlipat ganda
5. Disediakan pintu surga yang hanya dapat dimasuki orang yang bersedekah dan berinfaq
6. Dapat membebaskan dari siksa kubur
7. Memiliki/merasakan hati yang tenang, lapang, dan bahagia
8. Menyempurnakan Rangkaian Ibadah Ramadhan
9. Menambah keberkahan harta
10.Mendapat rahmat dari Allah

0 komentar:
Posting Komentar