MTs Madani Alauddin_Wakamad Kesiswaan
KURAIH KEHIDUPAN AKHIRAT DENGAN MENJAUHI GAYA HIDUP MATERIALISTIK, HEDONIS, DAN KONSUMTIF
Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Allah Swt. sudah membekalinya dengan potensi baik juga potensi buruk. Manusia bisa menjadi baik, bisa juga menjadi buruk, tergantung seberapa cerdas ia mengolah potensi yang Allah Swt. sertakan dalam kelahirannya. Jika seseorang mampu mengolah potensi baiknya, maka ia akan menjalani kehidupannya di jalan yang lurus, jalan yang diridhai Allah Swt,. Dan sebaliknya jika potensi buruk yang dihidupkan dalam dirinya maka jadilah ia tersesat, bertentangan dengan aturan Allah Swt.
Gaya hidup adalah merupakan salah satu ukuran seseorang itu termasuk golongan orang yang taat aturan Allah Swt. atau sebaliknya. Orang yang taat aturan Allah, maka ia tawadu‘, rendah hati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya. Ia malu kepada sesama manusia terutama kepada Allah Swt. Tetapi sebaliknya orang yang tidak taat aturan Allah Swt, ia akan menunjukkan keangkuhannya, kesombongan dan hanya mementingkan diri sendiri.
Gaya hidup materialistik, hedonis, komsumtif adalah beberapa contoh sikap jauh dari aturan Allah Swt. Orang semacam ini tidak lagi peduli kepada sesamanya apalagi kepada Tuhannya.
Dalam bab ini kalian akan mempelajari bagaimana seharusnya orang beriman menjalani kehidupan agar dapat menyeimbangkan kehidupan dunnia dan akhirat, sehingga tidak menganut gaya hidup materialistik, hedonis, dan konsumtif.
1. Makna dan Dalil larangan Gaya Hidup Materialistik, Hedonis, dan Konsumtif
Materialistis adalah sebutan untuk orang-orang yang bergatung pada materi. Mereka ini menganut paham materialisme yang hanya mementingkan harta, kekayaan, uang, jabatan, kedudukan dan lain-lain. Materialisme adalah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan, kekayaan sebagai tujuan atau nilai tertinggi dan paling utama tanpa mempedulikan halal ataupun haram.
Gaya hidup materialistik saat ini sudah merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Korbannya tak hanya orang-orang yang hidup di perkotaan, tetapi juga di pedesaan. Dari orang dewasa hingga anak-anak, dari pejabat sampai rakyat biasa sudah banyak yang terjangkit gaya hidup materialistik.
Akibat gaya hidup materialistik ini banyak orang yang rela menjadi pengemis, pencuri, penipu, perampok dan perilaku kriminal lainnya. Dan ada pula yang melakukan korupsi untuk memenuhi ambisi duniawinya. Hal ini mereka lakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi agar kebutuhan materinya terpenuhi.
Orang-orang yang beriman tidak akan menganut gaya hidup materialistik, karena mereka tahu Allah Swt. sudah melarang keras bahkan mengancam para pelakunya masuk neraka huthamah. Firma Allah Swt. dalam QS. al-Humazah (104 ):1 – 9
وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,
الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ
yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,
يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ
dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,
كَلَّا ۖ لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ
sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ
Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?
نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ
(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ
yang (membakar) sampai ke hati.
إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,
فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ
(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
Demikian buruknya orang yang memiliki gaya hidup materialistik di hadapan Allah Swt. Dengan demikian, sebagai orang yang beriman sudah sepantasnya kembali kepada al-Qur‘an dan Hadis sebagai pedoman hidup. Tidak tergiur dengan godaan dunia yang penuh tipu daya.
Hedon atau hedonis adalah sebutan bagi orang-orang yang menjadikan kesenangan dirinya sebagi tujuan dalam hidup. Ia akan melakukan berbagai cara yang penting merasa bahagia. Ia tidak memedulikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupannya. Ia hanya mencari kesenangan dunianya.
Gaya hidup hedonis dapat menimbulkan gaya hidup konsumtif, yaitu kecenderungan untuk memiliki sesuatu, belanja sesuatu secara berlebihan, secara boros tanpa terencana yang penting dirinya senang dan bahagia. Orang yang konsumtif tidak berpikir barang yang ia beli itu dibutuhkan atau tidak, yang ia pikirkan belanja dan belanja yang penting bahagia. Orang-orang seperti ini dikutuk oleh Allah sebagai temannya syetan. Firman Allah QS. al-Isra‘ (17 ):27
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
Ayat ini sudah banyak dilupakan orang-orang beriman.Tidak sedikit yang tergoda untuk berganti barang lama dengan yang baru padahal yang lama masih dapat digunakan. Lebih buruk dari itu, ada juga yang membeli sesuatu tetapi hanya ditumpuk tanpa bermanfaat sedikit pun bagi dirinya dan orang lain.
Maka sebagai orang beriman waspadalah dengan rayuan dunia yang melalaikan. Jangan sampai kita mengejar kesenangan dunia tetapi lupa bahwa ada kehidupan yang kekal dan abadi yaitu akhirat. Dunia adalah tempat menanam sedang akhirat adalah tempat memanen. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal saleh maka ia akan mendapatkan balasan di dua tempat, yaitu di dunia dan akhirat. Tetapi jika menyianyiakan kehidupan dunia, tidak beramal saleh, maka ia akan kehilangan kebahagiaan di akhiratnya. Firman Allah dalam QS. al-Hajj (22):11 ;
خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
2. Cara dan Hikmah Menghindari Gaya Hidup Materialistik, Hedonis, Konsumtif
Sehubungan dengan cara menghindari gaya hidup materialistik, hedonis, dan konsumtif dalam QS. Al-Baqarah (2): 172 Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya berkata, Rasul SAW bersabda: “makan dan minumlah, bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebihan dan tidak sombong.” (HR. Nasa‘i)
Berdasar kepada QS. Al-Baqarah (2): 172 dan hadis riwayat Nas‘i, maka cara agar terhindar dari gaya hidup materialistik, hedonis dan komsumtif sebagi berikut:
1. Kita harus memiliki keimanan yang kuat kepada Allah Swt.
2. Senantiasa bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah Swt.
3. Makan minum yang halal juga baik. Baik dzat makanannya maupun cara mendapatkannya
4. Bersedekah dengan ikhlas karena Allah Swt.
5. Memenuhi kebutuhan sandang dan papan tidak berlebihan
6. Tidan memiliki sifat sombong
7. Kita harus memiliki sifat qana‘ah atas rezeki yang Allah Swt. anugerahkan
8. Tidak berperilaku hidup boros.
Adapun hikmah menghindari gaya hidup materialistik, hedonis, konsumtif Adalah sebagi beriku:
1. Akan Mendapat rida Allah Swt.
2. Hidup menjadi tenang karena selalu bersyukur
3. Tubuh menjadi sehat karena menghindarkan makan minum yang haram dan tidak baik
4. Hidup menjadi lebih tenang karena menjalaninya dengan ikhlas karena Allah Swt.
5. Amal ibadahnya diterima oleh Allah Swt.
6. Allah Swt membuka pintu ampunan, dan dihapuskannya dosa serta dijauhkan dari api neraka
7. Diangkatnya derajat dan martabat oleh Allah Swt.
8. Dekat dengan pertolongan Allah Swt.
9. Dll
Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Nabi Saw. bersabda: "Tidak ada suatu hari pun ketika seorang hamba melewati paginya kecuali akan turun (datang) dua malaikat kepadanya lalu salah satunya berkata; "Ya Allah berikanlah pengganti bagi siapa yang menafkahkan hartanya", sedangkan yang satunya lagi berkata; "Ya Allah berikanlah kehancuran (kebinasaan) kepada orang yang menahan hartanya (bakhil)”. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya, dan Dia-lah pemberi rezeki sebaik-baiknya.”
“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.”
عَنْ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ عَنْ وُهَيْبٍ (رَوَاهُ اَلْبُخَارِى)
Artinya:
Dari Hakim bin Hizam radliallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam berkata,: "Tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang di bawah, maka mulailah untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu dan shadaqah yang paling baik adalah dari orang yang sudah cukup (untuk kebutuhan dirinya). Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya". (HR. Bukhari).
Penjelasan Hadits
Arti Mufradat
اَلْيَدُ الْعُلْيَا
Tangan yang diatas
مِنْ الْيَدِ السُّفْلَ
Dari pada tangan yang di bawah
وَابْدَأْ
Maka mulailah
بِمَنْ تَعُوْلُ
Untuk orang-orang yang menjadi tanggunganmu
عَنْ ظَهْرِ
Dari orang yang sudah cukup
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ
Barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya
وَمَنْ يَسْتَغْنِ
Barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya
يُغْنِهِ اللَّ
Maka Allah akan mencukupkannya
Dalam hadis riwayat Bukhari dari Hakim bin Hizam, Rasulullah ٍShallallahu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah”, maksudnya bahwa orang yang memberi lebih baik daripada yang menerima. Namun demikian bukan berarti jika kita diberi sesuatu oleh orang lain tidak boleh menerima. Jika ada orang yang memberi hadiah maka boleh diterima.
Hal ini pernah dicontohkan Rasulullah Saw., ketika itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menegur sahabtnya, Umar bin Khaththab karena Umar tidak mau menerima pemberian Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, maka Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun menegurnya, sebagaimana sabdanya:
“Ambillah pemberian ini! Harta yang datang kepadamu, sementara engkau tidak mengharapkan kedatangannya, dan juga tidak memintanya. Maka ambilah. Dan apa-apa yang (tidak diberikan kepadamu). maka jangan memperturutkan hawa nafsumu (untuk memperolehnya).” (HR. Bukhari - Muslim).
Dengan demikian jika ada yang memberi tidak dilarang untuk menerimanya, tetapi dilarang meminta-minta.
Meminta-minta dilarang keras dalam syari‘at kecuali dalam keadaan sangat terpaksa. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengilustrasikan akibat meminta-minta bahwa:
لَايَزَالُ الرَّجُلُ يَسْأَلُ النَّاسَ حَتَّى يَأْتِيَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَيْسَ فِي وَجْهِهِ مُزْعَةُ لَحْمٍ
“Seseorang yang senantiasa meminta-minta kepada orang lain sehingga ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.” (HR. Bukhari Muslim).
Ini menggambarkan bahwa meminta-minta tanpa ada kepentingan yang sangat mendesak adalah suatu kehinaan yang berakibat dosa. Dalam hadis yang lain Rasul Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun bersabda:
مَنْ سَأَلَ مِنْ غَيْرِ فَقْرٍ، فَكَأَ نَّمَا يَأْكُلُ الْجَمْرَ
“Barangsiapa meminta-minta (kepada orang lain) padahal ia tidak fakir, maka ia seolah-olah memakan bara api.” (HR. Ahmad)
Selain itu, dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah juga menjelaskan bahwa menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan adalah harus menjadi prioritas utama dibandingkan memberi nafkah orang lain. Maka mulailah berinfak dengan mencukupi kebutuhan diri sendiri lalu orang yang menjadi tanggungan kita. Berinfak untuk dirimu lebih baik daripada selainnya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam hadisnya bersabda:
اِبْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ
Artinya:
“Mulailah dari dirimu, bersedekahlah untuknya, jika ada sisa, maka untuk keluargamu”. (HR. Muslim).
Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), satu dinar yang engkau infakkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya ialah satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim).
Selain itu hadis riwayat Bukhari Muslim dari Abu Hurairah ini juga menjelaskan bahwa sedekah atau infak terbaik adalah setelah tercukupinya kebutuhan keluarga dan yang berhak mendapat nafkah lebih awal adalah keluarga terdekat dan orangorang yang menjadi tanggungan.
Selanjutnya dalam hadis ini juga mengabarkan bahwa Allah akan memelihara orang yang memelihara dirinya ('iffah). Dan Allah Subhanahu Wa Ta'alah akan mencukupkan orang yang mencukupkan kebutuhan dirinya (qana'ah). Ini terlihat dalam kalimat:
“Maka barangsiapa yang berusaha memelihara dirinya, Allah akan memeliharanya dan barangsiapa yang berusaha mencukupkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya."
Ini bukti bahwa orang yang ikhlas menerima ketentuan bahwa rezeki itu dari Allah Subhanahu Wa Ta'alah, maka Allah Subhanahu Wa Ta'alah akan senantiasa menjaga dan memelihara kesuciannya. Perilaku seperti demikian hanya akan lahir dari orang-orang yang memiliki keimanan yang kuat. Maka berinfaklah, karena infak merupakan bukti dari keutamaan iman seseorang.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالْ قَالْ رَسُولْ الِلهْ صلى الله عليه وسلم يَاْ مَعْشَرَ التُّجَّارْ إِنَّكُمْ قَدْ وَلَيْتُمْ أَمْرًا هَلَكْتْ فِيهْ الأُمَمْ السَّالِفَةْ الْمِكْيَالُ َالْمِيزَانْ (رواه البيهاقي)
Artinya:
“Dari Ibnu Abbas Ra. berkata, Rasulullah Saw.bersabda:“Wahai para pedagang, sesungguhnya kalian menguasai urusan yang telah menghancurkan umat terdahulu, yakni takaran dan timbangan”. (HR. Baihaqi)
يَاْ مَعْشَرَ التُّجَّارْ
Wahai para pedagang
قَدْ وَلَيْتُ
Sungguh kalian menguasai
الأُمَمْ السَّالِفَةْ
Umat terdahulu
الْمِكْيَالُ َالْمِيزَانْ
Takaran dan timbangan
Hadis ini merupakan peringatan keras kepada para pedagang untuk menyempurnakan takaran dan timbangan, agar tidak binasa seperti umat terdahulu (yang berlaku curang dengan mengurangi atau melebihkan takaran dan timbangan).
Takaran dan timbangan adalah dua alat ukur yang mendapat perhatian agar benar-benar dipergunakan secara tepat dan benar dalam perekonomian Islam sehingga terwujud keadilan dan kemakmuran. Perintah berlaku jujur dengan menyempurnakan takaran dan timbangan banyak kita jumpai dalam al-Qur‟an, diantaranya;
QS. Al-Isra' (17):35
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Terjemahnya:
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama dan lebih baik akibatnya”.
Terjadinya kecurangan dalam menakar dan menimbang karena adanya ketidakjujuran yang didorong oleh sifat tamak, rakus, ingin mendapat keuntungan besar tanpa peduli dengan kerugian orang lain. Para pebisnis mendapat peringatan ini, karena pada umumnya mereka menginginkan keuntungan besar dengan berbagai cara, terutama pada pelaku bisnis online sekarang ini, karena penjual dan pembeli tidak ketemu langsung.
Selain kecurangan dalam hal takaran dan timbangan, banyak kecurangan yang dilakukan oleh para pebisnis saat ini. Seperti saat transaksi online, ada penjual mengobral janji, ketika dana telah ditransfer, barang tak kunjung datang. Ada juga penjual yang mengelabuhi pembeli dengan gambar, foto atau tulisan yang tidak sesuai kenyataan dan hanya ingin menarik pelanggan, sehingga menimbulkan kekecewaan dan kerugian pembeli.
Atrinya:
“Dari Hasan bin Ali Ra.: Aku menghafal dari Rasulullah Saw.:"Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan." (HR. Tirmidzi)
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ ۚ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”
“Dua orang yang berjual beli memiliki hak untuk memilih, selama mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terus terang, keduanya akan diberkahi dalam urusan jual beli mereka. Namun jika keduanya dusta dan tidak terus terang, akan dilenyapkan keberkahan jual beli mereka.”

Salah satu bentuk kesempurnaan nikmat Allah bagi para hamba yang beriman adalah Dia turunkan kesulitan dan bahaya terhadap mereka, serta hal-hal yang mendorong mereka meng-esakan-Nya.
Kesabaran adalah kendaraan yang tidak akan tergelincir, dan sikap menerima adalah pedang yang tidak akan tumpul.
"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi. kecuali (dengan menyebut): “Insya Allah”."
Hubungi kami di.
Jl. Bontotangnga No. 36 Kel. Paccinongang Kec. Somba Opu Kab. Gowa
Senin - Sabtu
0813 4371 3740 / 0813 4226 2646
Copyright 2019 MTs Madani Alauddin_Wakamad Kesiswaan | Designed By Free Blogger Templates | Distributed By Gooyaabi Templates