KURAIH KEHIDUPAN AKHIRAT

KURAIH KEHIDUPAN AKHIRAT DENGAN MENJAUHI GAYA HIDUP MATERIALISTIK, HEDONIS, DAN KONSUMTIF

Manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Allah Swt. sudah membekalinya dengan potensi baik juga potensi buruk. Manusia bisa menjadi baik, bisa juga menjadi buruk, tergantung seberapa cerdas ia mengolah potensi yang Allah Swt. sertakan dalam kelahirannya. Jika seseorang mampu mengolah potensi baiknya, maka ia akan menjalani kehidupannya di jalan yang lurus, jalan yang diridhai Allah Swt,. Dan sebaliknya jika potensi buruk yang dihidupkan dalam dirinya maka jadilah ia tersesat, bertentangan dengan aturan Allah Swt.

Gaya hidup adalah merupakan salah satu ukuran seseorang itu termasuk golongan orang yang taat aturan Allah Swt. atau sebaliknya. Orang yang taat aturan Allah, maka ia tawadu‘, rendah hati dan memiliki jiwa sosial yang tinggi dalam kehidupannya. Ia malu kepada sesama manusia terutama kepada Allah Swt. Tetapi sebaliknya orang yang tidak taat aturan Allah Swt, ia akan menunjukkan keangkuhannya, kesombongan dan hanya mementingkan diri sendiri.

Gaya hidup materialistik, hedonis, komsumtif adalah beberapa contoh sikap jauh dari aturan Allah Swt. Orang semacam ini tidak lagi peduli kepada sesamanya apalagi kepada Tuhannya.

Dalam bab ini kalian akan mempelajari bagaimana seharusnya orang beriman menjalani kehidupan agar dapat menyeimbangkan kehidupan dunnia dan akhirat, sehingga tidak menganut gaya hidup materialistik, hedonis, dan konsumtif. 

1. Makna dan Dalil larangan Gaya Hidup Materialistik, Hedonis, dan Konsumtif

Materialistis adalah sebutan untuk orang-orang yang bergatung pada materi. Mereka ini menganut paham materialisme yang hanya mementingkan harta, kekayaan, uang, jabatan, kedudukan dan lain-lain. Materialisme adalah pandangan hidup yang menjadikan kesenangan, kekayaan sebagai tujuan atau nilai tertinggi dan paling utama tanpa mempedulikan halal ataupun haram.  

Gaya hidup materialistik saat ini sudah merajalela di seluruh lapisan masyarakat. Korbannya tak hanya orang-orang yang hidup di perkotaan, tetapi juga di pedesaan. Dari orang dewasa hingga anak-anak, dari pejabat sampai rakyat biasa sudah banyak yang terjangkit gaya hidup materialistik.

Akibat gaya hidup materialistik ini banyak orang yang rela menjadi pengemis, pencuri, penipu, perampok dan perilaku kriminal lainnya. Dan ada pula yang melakukan korupsi untuk memenuhi ambisi duniawinya. Hal ini mereka lakukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi agar kebutuhan materinya terpenuhi.

Orang-orang yang beriman tidak akan menganut gaya hidup materialistik, karena mereka tahu Allah Swt. sudah melarang keras bahkan mengancam para pelakunya masuk neraka huthamah. Firma Allah Swt. dalam QS. al-Humazah (104 ):1 – 9

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela,

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung,

يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya,

كَلَّا ۖ لَيُنْبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ

sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ

Dan tahukah kamu apa Huthamah itu?

نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ

(yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,

الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ

 yang (membakar) sampai ke hati.

إِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُؤْصَدَةٌ

Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka,

فِي عَمَدٍ مُمَدَّدَةٍ

(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

Demikian buruknya orang yang memiliki gaya hidup materialistik di hadapan Allah Swt. Dengan demikian, sebagai orang yang beriman sudah sepantasnya kembali kepada al-Qur‘an dan Hadis sebagai pedoman hidup. Tidak tergiur dengan godaan dunia yang penuh tipu daya.

Hedon atau hedonis adalah sebutan bagi orang-orang yang menjadikan kesenangan dirinya sebagi tujuan dalam hidup. Ia akan melakukan berbagai cara yang penting merasa bahagia. Ia tidak memedulikan norma-norma yang berlaku dalam kehidupannya. Ia hanya mencari kesenangan dunianya.

Gaya hidup hedonis dapat menimbulkan gaya hidup konsumtif, yaitu kecenderungan untuk memiliki sesuatu, belanja sesuatu secara berlebihan, secara boros tanpa terencana yang penting dirinya senang dan bahagia. Orang yang konsumtif tidak berpikir barang yang ia beli itu dibutuhkan atau tidak, yang ia pikirkan belanja dan belanja yang penting bahagia. Orang-orang seperti ini dikutuk oleh Allah sebagai temannya syetan. Firman Allah QS. al-Isra‘ (17 ):27

إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Ayat ini sudah banyak dilupakan orang-orang beriman.Tidak sedikit yang tergoda untuk berganti barang lama dengan yang baru padahal yang lama masih dapat digunakan. Lebih buruk dari itu, ada juga yang membeli sesuatu tetapi hanya ditumpuk tanpa bermanfaat sedikit pun bagi dirinya dan orang lain.

Maka sebagai orang beriman waspadalah dengan rayuan dunia yang melalaikan. Jangan sampai kita mengejar kesenangan dunia tetapi lupa bahwa ada kehidupan yang kekal dan abadi yaitu akhirat. Dunia adalah tempat menanam sedang akhirat adalah tempat memanen. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal saleh maka ia akan mendapatkan balasan di dua tempat, yaitu di dunia dan akhirat. Tetapi jika menyianyiakan kehidupan dunia, tidak beramal saleh, maka ia akan kehilangan kebahagiaan di akhiratnya. Firman Allah dalam QS. al-Hajj (22):11 ;


خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” 


2. Cara dan Hikmah Menghindari Gaya Hidup Materialistik, Hedonis, Konsumtif

Sehubungan dengan cara menghindari gaya hidup materialistik, hedonis, dan konsumtif dalam QS. Al-Baqarah (2): 172 Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya berkata, Rasul SAW bersabda: “makan dan minumlah, bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebihan dan tidak sombong.” (HR. Nasa‘i)

Berdasar kepada QS. Al-Baqarah (2): 172 dan hadis riwayat Nas‘i, maka cara agar terhindar dari gaya hidup materialistik, hedonis dan komsumtif sebagi berikut:

1. Kita harus memiliki keimanan yang kuat kepada Allah Swt. 

2. Senantiasa bersyukur atas rezeki yang diberikan Allah Swt. 

3. Makan minum yang halal juga baik. Baik dzat makanannya maupun cara mendapatkannya 

4. Bersedekah dengan ikhlas karena Allah Swt. 

5. Memenuhi kebutuhan sandang dan papan tidak berlebihan 

6. Tidan memiliki sifat sombong 

7. Kita harus memiliki sifat qana‘ah atas rezeki yang Allah Swt. anugerahkan 

8. Tidak berperilaku hidup boros.


Adapun hikmah menghindari gaya hidup materialistik, hedonis, konsumtif Adalah sebagi beriku: 

1. Akan Mendapat rida Allah Swt. 

2. Hidup menjadi tenang karena selalu bersyukur 

3. Tubuh menjadi sehat karena menghindarkan makan minum yang haram dan tidak baik 

4. Hidup menjadi lebih tenang karena menjalaninya dengan ikhlas karena Allah Swt. 

5. Amal ibadahnya diterima oleh Allah Swt.

6. Allah Swt membuka pintu ampunan, dan dihapuskannya dosa serta dijauhkan dari api neraka 

7. Diangkatnya derajat dan martabat oleh Allah Swt. 

8. Dekat dengan pertolongan Allah Swt. 

9. Dll

3 komentar:

  1. Maksud dari ayat tersebut menjelaskan : yang dimaksud qad aflaha man tazakka adalah mereka yang senantiasa membersihkan dirinya dari perangai tercela dan akhlak yang buruk serta mentaati perintah-Nya.
    Ditegaskan juga dalam ayat ini, orang yang memperoleh kemenangan dan keberhasilan itu adalah orang yang tazakka. Kata tazakka berasal dari zaka yang berarti al-nama’(tumbuh). Oleh karena itu, al-Zujaj menafsirkan kata ini dengan memperbanyak takwa.

    BalasHapus
  2. 1. Menghindari sifat tamak dan rakus
    2. Menghindari sifat dengki dan sombong
    3. Menjalin sosialisasi dengan lingkungan masyarakat yang sederhana. Dalam arti, mengelak terhadap dunia yang berfoya-foya.
    4. Berusaha sebisa mungkin mengontrol diri terhadap segala sesuatu hal yang berbau materi.
    5. Bersifat qana'ah ( menerima ).

    BalasHapus
  3. 1. Menghindari sifat tamak dan rakus
    2. Menghindari sifat dengki dan sombong
    3. Menjalin sosialisasi dengan lingkungan masyarakat yang sederhana. Dalam arti, mengelak terhadap dunia yang berfoya-foya.
    4. Berusaha sebisa mungkin mengontrol diri terhadap segala sesuatu hal yang berbau materi.
    5. Bersifat qana'ah ( menerima ).

    BalasHapus

Informasi

Hubungi kami di.

Alamat:

Jl. Bontotangnga No. 36 Kel. Paccinongang Kec. Somba Opu Kab. Gowa

Jam Kerja:

Senin - Sabtu

Tlp/HP:

0813 4371 3740 / 0813 4226 2646